Yakin Kabur?

Published by

on

Beberapa hari ke belakang, saya mendapati postingan berbau “Kabur Aja Dulu” lagi rajin muncul di laman Twitter. Merekomendasikan/menyarankan kerja/hidup di luar negeri, dalam rangka kabur dari Indonesia; yang sepertinya diasumsikan sudah “ga ketolong”. Menarik? Menurut saya sih enggak terlalu.

Yang terlintas di benak: Yang merekomendasikan nikmatnya hidup di Jepang sepertinya lupa atau kurang lengkap mencantumkan S&K-nya. Seperti halnya diberi kenikmatan di akhirat karena di dunia banyak amal saleh, Anda sekalian akan mendapat perlakuan menyenangkan di Jepang jika banyak “amal jejepangan”.

Negeri Sakura yang sering jadi primadona warganet
Photo by Bagus Pangestu on Pexels.com

Kalau ke Jepang dengan niat so-called refugee (Kabur Aja Dulu), tebakan dan menurut saya sih, jangan terlalu muluk dengan ekspektasi hidup enak sampai Anda sekalian melakukan banyak “amal jejepangan”. Yaitu belajar bahasanya, budayanya, empati/toleransi tinggi dengan perbedaannya, dsb. Yakin banget sanggup?

Hidup di Jepang enak memang, but at what cost? Your basic resource lah (time, energy, attention). Yang bagus-bagus biasanya bayar mahal dan yang too good to be true biasanya palsu. Masih mau kabur aja dulu? Ke Jepang, where people dgaf about you until you embrace their way of life? Silakan timbang sendiri.

Semoga beruntung di Jepang atau di negara mana saja yang dituju. Ending-nya mau ngelupain kita-kita yang dengan sadar masih nyangkut di sini (saya) itu kemerdekaan para insan dewasa. Ngapain juga peduli sama kacang lupa kulit, kan?

Tinggalkan komentar