Life, Thoughts

September 2016 Life Updates

Terdorong untuk menulis akibat kurang kerjaan dan habis update template blog, inilah dia, September 2016 Life Updates.

Kabar terkini yang paling blog-able adalah si bungsu alias adik laki-laki ane akhirnya lulus kuliah dan menyandang gelar S.Psi. Songong ye ngebalap kakaknya punya gelar sarjana duluan. Yah tapi begitulah hidup, susah ditebak.

Kalau kata temen ane sih hidup itu kadang lempar hadiah, kadang lempar bom. (keren sih tapi kenapa bom ya? Emang meledak banget hidupnya?)

miman
Walau demikian, ane tetap bangga :’)

Selanjutnya adalah soal kuliah. Memasuki semester 5 dan berkaca dari kelulusan adik, enggak terlalu banyak bisa ngomong sih selain rasanya kok semakin bingung dengan arah hidup ya? Mau dibawa kemana dan intinya ya itu, bingung.

jangan-sesali-kalau-salah-jurusan-karena-mungkin-kamu-akan1-660x280
Istilah inteleknya, krisis eksistensi. 

Hmm kata orang sih jalanin aja dulu tapi kayaknya kompasnya bermasalah.

Jarak antara postingan terakhir dan postingan ini ada sekitar 5 bulan, tapi karena ane sudah kehabisan bahan tulisan, jadi ya segitu aja postingannya. Kalau mau lebih up-to-date (siapa juga yang mau?), ane lebih sering bicik di sosmed lain (bisa dilihat di widget sidebar blog ini).

Over and out. 

Advertisements
Random, Thoughts, Uncategorized

Voucher Studies

Halo rekan setia olahraga.
Yang enggak olahraga juga halo.
Tapi jangan lupa olahraga, soalnya olahraga itu bikin tubuh sehat dan kuat.
Kembali lagi ke blog fakir pembaca, Subwaystation bersama saya; Stationmaster Fathya.

Eits, tunggu dulu. Jangan kira dengan yang tadi itu gue lagi merajuk secara terselubung kepengen blognya banyak yang baca. Hobi sotoy tak usahlah dipelihara. Siapa juga yang ngerajuk.

….tapi ngambek iya :’) #uhuk #KoinUntukFathya

pityparty

Kali ini mau ngobrolin apa ya? Hmm. Mikir dulu biar keliatan pinter.

Oya, akhir-akhir ini gue lagi hobi ngobrak-ngabrik kamar. (buat apa dipikir?)

Memancing respon terus kenapa rupanya sih, tapi bodo amat di luar dugaan beresin kamar itu ternyata highlight dan dramanya banyak.

Dari buku yang terpaksa/dipaksa/memaksa untuk dibuang…

crying

Sampai ditemukannya voucher belanja senilai bilangan bulat positif yang bukan nol.gi

Nah dari voucher belanja ini, muncul sebuah pemikiran yang didasari oleh pengalaman konflik batin.

Kenapa ketika seorang Fathya diberikan alat tukar senilai x dalam bentuk UANG, dia memiliki kencenderungan untuk menukarnya dalam bentuk MAKANAN?

Tapi ketika seorang Fathya diberikan alat tukar senilai x dalam bentuk BUKAN UANG, dia memiliki kencenderungan untuk menukarnya dalam bentuk YANG BUKAN MAKANAN?

Apakah yang menyebabkan perilaku ini? Apakah perilaku tersebut hanya berlaku kepada seorang Fathya yang pada dasarnya memang mencintai makanan? Apakah ketika manusia selain Fathya diberikan perlakuan yang sama, akan berperilaku yang sama? Mari kita tanya Galileo.

Eh tapi Galileo udah almarhum jadi kita tanya…tanya…tanya siapa? 

Atau tanya apa?

Udah ah daripada ngajak bingung masal. Gue aja bingung sendiri, over and out.

Art, Lesson, Thoughts, Uncategorized

Reality Check Ahead

Hello there citizens of humanity, so excited to be back in the Blogosphere! #sokasik

Lately I’ve been into interior design and bought a book which was kind of like “Interior Design for Dummies” and got so excited I actually start cleaning my room.

Which, I consider one of the greatest achievement in history of counterattacking laziness. Yay me.

And while I was looking through old stuff, my old drawings reminds me of ze good old days reading drawing tutorials and ¥¥¥s spent on pencils. And the sweet right hand muscle training. Priceless. Anyway, since I believe knowledge sharing is crucial in order to be able to develop skills and competences, increase value, and sustain competitive advantages, allow me to be your teacher and your guide and your angel for today. 

Sincerely, Fathya Rachmani.

Okay, my main theme for this post is actually more on learning how to see, I learned that learning how to draw is actually learning how to see. So for those having difficulty on understanding, this is how I (used to) train my brain (I learned it from learning how to draw realism art):

condescending wonka

It’s like when you take a picture of an object, let’s say an apple. When you have both your eyes open, the apple is 3D and your scumbag brain is basically confused the perspective and lighting for you to perceive it as 3D. But when you take the picture and print it out, you can then finally focus on the silhouette, lighting, contour, shape of the apple.

Hang a drawing UPSIDE-DOWN and it’ll be even easier to draw/sketch it because you will be 100% focusing on the actual shape of the drawing rather than what your (untrained) brain thinks it looks like.

Upside-down drawing is one where you can easily “disassociate any ideas about an object you have and see it as pure visual information.”

Need to draw more of this kind of drawing. This was made a year ago.
Need to draw more of this kind of drawing. This was made a year ago.

I guess it’s kind of like Ayn Rand’s Objectivism but it’s more on the artsy side. I don’t even know what I just typed.

You’re welcome.

OVER AND OUT.