Art, Lesson, Thoughts, Uncategorized

Reality Check Ahead

Hello there citizens of humanity, so excited to be back in the Blogosphere! #sokasik

Lately I’ve been into interior design and bought a book which was kind of like “Interior Design for Dummies” and got so excited I actually start cleaning my room.

Which, I consider one of the greatest achievement in history of counterattacking laziness. Yay me.

And while I was looking through old stuff, my old drawings reminds me of ze good old days reading drawing tutorials and ¥¥¥s spent on pencils. And the sweet right hand muscle training. Priceless. Anyway, since I believe knowledge sharing is crucial in order to be able to develop skills and competences, increase value, and sustain competitive advantages, allow me to be your teacher and your guide and your angel for today. 

Sincerely, Fathya Rachmani.

Okay, my main theme for this post is actually more on learning how to see, I learned that learning how to draw is actually learning how to see. So for those having difficulty on understanding, this is how I (used to) train my brain (I learned it from learning how to draw realism art):

condescending wonka

It’s like when you take a picture of an object, let’s say an apple. When you have both your eyes open, the apple is 3D and your scumbag brain is basically confused the perspective and lighting for you to perceive it as 3D. But when you take the picture and print it out, you can then finally focus on the silhouette, lighting, contour, shape of the apple.

Hang a drawing UPSIDE-DOWN and it’ll be even easier to draw/sketch it because you will be 100% focusing on the actual shape of the drawing rather than what your (untrained) brain thinks it looks like.

Upside-down drawing is one where you can easily “disassociate any ideas about an object you have and see it as pure visual information.”

Need to draw more of this kind of drawing. This was made a year ago.
Need to draw more of this kind of drawing. This was made a year ago.

I guess it’s kind of like Ayn Rand’s Objectivism but it’s more on the artsy side. I don’t even know what I just typed.

You’re welcome.

OVER AND OUT.

Advertisements
Lesson, Life, Thoughts, Uncategorized

Lifehack Tips: Edisi The Sims

Selamat siang pemirsa dan salam olahraga.

Dulu semasa SMA, gue sering mendengar komentar dari para teman kalau mereka tidak diperbolehkan menginstall The Sims di komputer oleh orang tuanya karena The Sims merusak akhlak dan moral. Ada juga yang bilang main The Sims bikin ketagihan sehingga lupa waktu dan sekolah jadi terbengkalai. Ada juga yang bilang main The Sims itu seperti tidak mau menghadapi kenyataan dan mencoba membuat kehidupan baru di dunia virtual.

“Ah itu sih lo aja ya, gue sih enggak tuh sori.” dalam diam batin menghardik sombong; khas Fathya.

Maka dari itu pada postingan kali ini, gue ingin mematahkan semua tuduhan tak benar yang dihadapkan kepada The Sims. Alasannya tak lain tak bukan; gue bosan.

Pertama, tuduhan mengenai The Sims merusak akhlak dan moral.
Gue rasa ini juga dipengaruhi oleh faktor kurang intensifnya pendidikan moral dan penanaman nilai pada anak. Yang berarti kesalahan bukan terletak pada game The Sims itu sendiri, tapi juga terletak pada ORANG TUA dan PEMBIMBING. Memang iya beberapa dari konten The Sims ada yang bikin alis naik, tapi kalo semisal si anak yang main The Sims ini waktu kecil udah diajarin yang enggak bener sama orang dewasa di sekitarnya sih… Akhlak rusak berarti bukan salah gamenya juga dong?

Kedua, tuduhan mengenai The Sims yang bikin ketagihan sehingga lupa waktu dan sekolah jadi terbengkalai.
Ah, jangankan The Sims, main gundu aja kalo orangnya emang ketagihan mah ya udah ketagihan aja. Sekolah terbengkalai mah terbengkalai aja. Makanya si anak juga mesti dikasih tau kalau balance dalam hidup itu penting, work hard play hard dan everything in moderation gitu.

Ketiga, main The Sims karena tidak mau menghadapi kenyataan dan mencoba membuat kehidupan baru di dunia virtual.

Kenyataannya memang PADA KENYATAANNYA realita itu keras, kawan! (sayup-sayup dari belakang terdengar rintihan Fathya “#jakartakeras #tokyokeras #kangenbekasi“)

Dimanapun habitat lo, ingatlah akan hukum rimba; hanya yang kuat yang sanggup bertahan dan survive. Lebih bagus lagi kalo bisa lebih dari sekedar itu, tapi juga memberikan kontribusi positif bagi lingkungannya. Tapi ya namanya juga manusia, mau sekuat Hulk sekalipun kalo lagi muak sama hidup pasti bawaannya kepengen cari pelarian. Dan The Sims adalah salah satu bentuk pelarian bagi mereka yang merasa bermain The Sims memberikan sense of comfort yang tidak bisa diberikan oleh yang lain. Makanya, gue merasa bermain The Sims untuk lari dari kenyataan itu hal yang wajar dan mereka yang melakukannya tak perlulah dihardik dan diberikan konotasi negatif. Apalagi sampai dilarang The Simsnya.

Diregulasi saja bagaimana?

photo (8)

….kurang puas membantah tuduhan, gue juga ingin menambahkan beberapa lifehack tips yang gue petik dari main The Sims. Alasannya tak lain tak bukan; gue bosan season dua.

Pertama, The Sims mengajarkan bahwa ketika ingin meraih satu tujuan, arahkan kursor pada objek, klik objeknya, tanpa banyak cincong lagi, langsung tancap.
Prinsip ini menarik ketika diaplikasikan kepada hubungan interpersonal dengan orang lain. Ketika menemukan orang yang dirasa menarik, banyak di antara kita yang merasa “ah malu, ah saya gak pantes ngomong sama dia, dan ah ah ah lainnya” lalu hubungan pun jadi tidak terjalin karena sudah keburu kalah sebelum berperang. Padahal kalo pake prinsip The Sims yang tinggal “deketin orangnya, click, pilih dan pencet talk” yang nantinya berbuah bar relationshipnya jadi naik. Terus jadi bisa upgrade dari yang cuma temen jadi demen. Kalo jago, bisa juga jadi nyasar di pelaminan. Tapi hati-hati salah langkah so choose wisely.

Kedua, The Sims mengajarkan bahwa ketika kita menggapai tujuan hidup, mood bar kita menjadi putih kinclong dalam sekejap dan semua needs kita terpenuhi.
Artinya apa? SENSE OF ACHIEVEMENT itu penting, Bung! Sekian.

Ketiga, ketika kita mengasah skill, semakin tinggi levelnya semakin butuh waktu untuk naik ke level selanjutnya. Sama, di kehidupan nyata juga begitu. Semakin jago kita, semakin memakan waktu buat upgrade ke level selanjutnya. Enggak ada itu ceritanya hari ini pertama kali pegang gitar, tiba-tiba besok udah jadi Jimi Hendrix.

Kecuali lo pake cheat.

Btw yang punya cheat gue minta dong.

Ehem, karena sekarang sudah tahu mengasah skill itu memang butuh banyak waktu, makanya jangan keburu menyerah ketika merasa kalau kita gak jadi jago-jago juga. Tetap lakukan hal yang lo suka, dan kalau boleh mengutip Finding Nemo;

dory

Over and out ;)