[Ulasan] Cinta Brontosaurus (2013) – Teori Cinta Kadaluarsa dari Raditya Dika

Dalam komedi romantis besutan sutradara Fajar Nugroho ini, Raditya Dika mengajak penonton untuk ikut dalam pencariannya akan makna cinta dengan premisnya “Cinta itu bisa kadaluarsa.”

Sumber: indonesianfilmcenter.com

Merupakan adaptasi dari buku keduanya yang berjudul sama.

Mengalami percintaan yang kandas, Raditya Dika yang merupakan seorang penulis muda semakin yakin kalau cinta suatu saat akan kadaluarsa. Pesimismenya ini diperparah oleh agen naskahnya bernama Kosasih yang diperankan oleh Soleh Solihun yang membawanya ke perkenalan kepada beberapa perempuan aneh yang sama sekali tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Hingga suatu hari, ia bertemu dengan Jessica yang diperankan oleh Eriska Rein dan lika-liku perjuangan mencari cintanya pun dimulai.

Dibintangi oleh Raditya Dika yang memerankan dirinya sendiri sebagai tokoh utama dengan gaya humorisnya yang khas menjadi daya tarik tersendiri di film berdurasi 98 menit ini. Meski demikian, dialog-dialognya terasa garing dan hanya sedikit yang benar-benar mengocok perut untuk ukuran film komedi romantis.

Menghibur dan membawa pesan baik.

Selain mempertanyakan apakah cinta bisa kadaluarsa, film ringan ini juga membawa pesan-pesan baik dan berbobot melalui dialognya mengenai konsekuensi sebuah pernikahan, etiket bermasyarakat dan arti pertemanan dengan gaya yang tidak menggurui dan memberikan penonton pengetahuan baru. Merupakan sebuah langkah bagus dari Dika yang juga merupakan penulis naskah film ini yang baik untuk menjadi referensi anak muda lainnya. Namun sayang, cerita dan konflik yang sederhana untuk durasinya terasa membosankan dan kurang seru untuk disaksikan hingga selesai. Terlebih humornya yang garing dapat mendorong panggilan alam untuk terlelap di depan TV.

Secara keseluruhan film ini tidak ada yang spesial selain mengandalkan pesona Raditya Dika. Chemistry dengan Eriska Rein sebagai lawan mainnya pun kurang terasa dan pesannya mengenai makna cinta kurang tersampaikan dengan baik karena beberapa humor yang tidak diperlukan. Secara visual, sinematografinya sudah cukup baik membawakan nuansa yang sesuai untuk ceritanya. Jika Anda adalah penggemar karya-karya Raditya Dika, mungkin tidak ada salahnya menonton film romantis yang tak menye-menye ini karena dapat melihat bagaimana proses ia bekerja di balik layar dan perjalanan karirnya.

Published by fathmanism

Illustrator, cinephile, gamer, writer, traveler, cat lover, Indonesian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: