Siap Nikah?

Kemarin, linimasa Twitter saya tengah ramai situs siap-nikah.id yakni situs kuesioner buatan BKKBN x FEMA IPB bertajuk pernikahan yang mencoba mengasses kesiapan seseorang dalam menghadapi pernikahan. Menarik. Jujur, belakangan ini memang mulai sensitif dengan hal-hal berbau pernikahan karena usia yang semakin menua alias baru saja menginjak 27 tahun November lalu.

Walau saya penganut “Jodoh ga kemana” tapi Instastory yang berbau kehidupan rumah tangga seperti bayinya si anu, akadnya si itu, dsb lainnya sedikit banyak bikin nervous. Belum lagi ayah saya pernah drama dengan berkata “Papa ga akan mati sebelum liat kamu nikah :’)” warbyasa Piala Citra Nominee.

“KOK GUE GA NIKAH-NIKAH YA?!”

Ga tau Fath, tanya aja sama Allah SWT.

Dan karena hype situs tersebut hangat dan bikin penasaran, maka saya ikutan mencobanya. Bisa tebak berapa skor saya? Sebelumnya, yuk ulas pertanyaan yang ditanyakan di kuesioner ini :3

NOMOR SATU: USIA. Jadi disini ditanya apakah usia di atas 21? Karena saya 27 tentu saja jawab YA. AKAN TETAPI!!! Indonesia ini adala negara huqum, dan mengacu kepada artikel CNN Indonesia ini batas usia pernikahan adalah 19 tahun. Lalu kenapa kuesionernya 21 tahun kalau batas pernikahan menurut UU terbaru adalah 19 tahun? Siapa penulisnya ini lancang melangkahi negara dengan berasumsi bahwa usia di atas 21 tahun adalah “siap menikah”?

KEDUA: FISIK. Untuk riwayat penyakit itu privasi individu jadi skip. Lanjut, apakah secara fisik saya siap bekerja untuk menghasilkan uang? Ya oke saya sih siap tapi kalau penyandang disabilitas ditanya gini apa tidak menyinggung ya? Rancu. Lanjut lagi, apakah secara fisik siap mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Zaman sekarang ada G*-Clean juga sih jadi selama ada uangnya ya siap-siap aja, kalo lagi rajin bisa kerjain sendiri. Terakhir, siap melakukan hubungan seksual? Siap-siap aja kalo enak mah, kalo ga enak apa sih hari gini yang ga ada tutorialnya?

KETIGA: FINANSIAL. Pendapatan tetap? Gimana jawabnya kalo freelancer babi ngepet (cenderung fleksibel dan aktif di malam hari) gitu? Itu juga kalo lagi ada job, kalo sepi ya cuma tidur baca buku pengembangan diri (jie pentjitraan). Tapi apakah siap nikah itu pendapatannya harus TETAP? BAGAIMANA DENGAN GIG ECONOMY DALAM ECONOMY INCLUSIF DAN MASJARAKAT EKONOMY ASEAN INI?!?1! Bayq. Kemudian “Mandiri dalam hal keuangan”. Bagaimana ya, sebagai manusia yang notabene makhluk sosial, hidup kan ga selamanya harus selalu mandiri. Bisa saja BCA, BNI atau BRI. Memang benar-benar.

KEEMPAT: MENTAL. Banyak nih nanyanya, dibikin poin aja ya:

  • Kekurangan pasangan yang tidak sesuai? Tergantung apa dulu tapi pilihannya cuma YA/TIDAK jadi jawab TIDAK.
  • Kebiasaan jelek pasangan? Kalo kebiasaannya merugikan saya ya TENTUNYA PROTES YA BAMBANG. Memangnya tembok apa yang hanya pasif? Kalo kebiasaannya cuma tidak umum tapi harmless ya wes sakkarepmu.
  • Pasangan dari kelas ekonomi berbeda? Kalo bucin banget ya kayaknya sih siap-siap aja (itupun kalo disetujui keluarga), tapi lebih cenderung nyari yang serupa karena malas beradaptasi hihi.
  • Siap menjalani kehidupan keluarga yang tidak sesuai harapan? Kalo tidak sesuai harapannya negatif ya pastinya demot. Tapi ga sehalu itu berharap sesuatu yang terlalu ngimpi. Positive thinking perlu tapi realistis juga lah.
  • Siap jadi ortu teladan bagi anak? Siap ga siap. Yang pasti saya merasa hina kalo ngajarin anak yang ga bener, tapi untuk 100% teladan ngemeng siap doang ya gampang ngejalaninnya pasti susah.
  • Siap menerima anak dengan kondisi tidak diharapkan? Ga. Tapi kalo kenyataan berkata lain terus harus ngapain bambang? Dibuang? Kasihin orang? Ini bahas manusia, bukan kucing. Buang kucing pun udah jahanam.
  • Siap pengasuhan anak di era digital? Ga tau.
  • Siap perlakuan tidak baik dari keluarga besar? Tidak semudah itu Magdalena. Karena tentu saya akan membalas, tendang burungnya kalo perlu. YA OGAH LAH KELUARGA TAPI KOK SEMENA-MENA, DISFUNGSIONAL, DAN KELAKUANNYA TIDAK BAIK??????
  • Sudah memiliki perencanaan kehidupan setelah menikah? Kawan, sebaik-baik rencana adalah His Plan™. Perbanyak ibadah dan bicarakan dengan profesional alias nyari financial advisor yang ga jual fear >:3
  • Siap menjalani pola hidup berubah setelah menikah? Tergantung kayak apa.

Capek ga bacanya? Break dulu yuk.

Photo by Anna Urlapova on Pexels.com
Lanjut lagi yaaa

KELIMA: EMOSI. Bagaimana jika terlahir berbakat temperamen seperti saya? Apakah selamanya tidak siap menikah? Bisa sih mengontrol amarah, cuma tak seluwes orang lain jadi kalau kesal ya marah. Lalu saya ini termasuk non-siap-nikah? Dan kalau ada ucapan tidak berkenan pun kayaknya siapapun tersinggung ga sih dan bukan emosinya yang ga siap?

Itulah kenapa adek-adekku, mengapa Imam Ghazali membuat bab khusus soal lisan. Bukan tersinggungnya yang dikontrol, tapi bahasanya dalam pergaulan yang dikontrol dan menjaga perasaan orang lain. Gitu ga sih? Ini tuh maksudnya mau nanya lo baperan apa ga? Jangan suka ngeles si anu yang baper kalo ucapan lo yang emang nyelekit. Belajar minta maaf sana.

KEENAM: SOSIAL. Mulai membosankan. Lalu kok pertanyaan terakhir nanyanya gitu ya? Kalau seseorang tidak menyukai Anda lalu selalu ditolong udah kualitas nabi banget tuh. Daftar Nobel prize kali udah menang. Saya pribadi sih kalau dia jelas tidak suka saya boro-boro nolong. Udah diblock. Ngapain nyimpen duri dalam daging?

KETUJUH: MORAL. Saya Muslim-ga-alim-alim-amat jadi jawabnya ya untuk pertanyaan pertama. Sisanya iya aja biar cepet, amoral sih juga enggak. Tapi belum merasa sesuci itu.

KEDELAPAN: INTERPERSONAL. Bagian berbicara jujur meski menyakitkan itu sikon-sikonan, seenggaknya buat saya. Bukannya muka dua, tapi kadang ada hal-hal yang lebih baik tidak usah disampaikan dan utamakan صِلَةُ الرَّحِمِ. Bukan berarti mengiyakan penjilat juga. Terus memiliki hubungan baik dengan berbagai umur dan tingkat sosial ekonomi hubungannya apa sama pernikahan? Ya emang sih lebih baik kalo luwes dengan berbagai jenis manusye, tapi apa relevan? Mohon pencerahannya.

Mari kita break lagi :3

KESEMBILAN: KETERAMPILAN HIDUP. Belajar masak? Nikah ga nikah belajar masak itu bukannya penting banget??? Terus mengetahui cara perawatan kesehatan reproduksi emangnya ada yang jawab TIDAK? Kok geli.

AKHIRNYA TERAKHIR. KESIAPAN INTELEKTUAL. Ini sih saya jawab YA semua soalnya walau ga tau-tau amat, tapi udah punya buku-bukunya pas beli karena penasaran. Jadi secara intelektual, saya ga tau tapi saya punya bukunya. Bukan promosi, tapi buku ini menurut saya oke punya.

Disclaimer: Sumber foto klik aja fotonya.

JADI SKORNYA BERAPA FATH?

WASU TENAN

Menurut situs ini, kemungkinan besar GA SIAP HAHAHAHAHAHA. Teuing ah.
Wabillahittaufiq walhidayat. Terima kasih telah membaca sampai akhir.

Published by fathmanism

Illustrator, cinephile, gamer, writer, traveler, cat lover, Indonesian.

One thought on “Siap Nikah?

  1. BWUAAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAAHHAHAHHAAHAHAHAHAAHAA!!! Km lucu d 😂😂 64 koma?? Next time better ya dek 😁😁😁😂😂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: