Uncategorized, Writing

Sayembara Abadi

Image

Kuamati sekitar;
Manusia balapan dengan manusia lainnya.
Tak munafik, kadang akupun tak jauh berbeda.
Muak, kuhentikan balapan tak berguna ini dan mencoba balapan dengan semesta.
Lari.
LARI.
LARIIIIIIII.
Kakiku berputar terpelintir mencoba mendahului lempeng dibalik tanah.
Mataku memperhitungkan matahari yang jadi titiknya.
Tapi aku ingat, di luar ada yang jauh lebih megah.
Yang serupa dengan tak terlihatnya titik akhir karena jauh di luar jangkauan.
Berhenti, kuhela napas sambil tertawa.

Balapan ini tak akan ada habisnya dan sudah jelas siapa yang menang mutlak.
Kukencangkan tali sepatuku, berlari lagi.
Kali ini bersamanya.
Kali ini bukan balapan.
Kali ini kuresapi setiap langkah; melebur.

Advertisements
Thoughts

Burung Bengal

Aku Burung Rajawali.

Burung Rajawali yang sayapnya rontok menjadi seribu serpihan.

Burung Rajawali yang rabun dekat karena matanya kelilipan tetes hujan, debu dan angin.

Burung Rajawali yang terbang sendirian, ditakuti oleh lawan, dicaci oleh kawan.

Burung Rajawali yang kakinya parut marut, peyot tak bertulang.

Burung Rajawali yang kelelahan, tapi bandel bersikukuh tidak butuh istirahat.

Burung Rajawali yang tenggelam di samudera aksara.

Burung Rajawali yang mempertanyakan identitas, eksistensi dan posisi dirinya dengan dunia dan alam semesta.

Garis Bujur berapa?

Garis Lintang berapa?

Burung Rajawali bertanya.

Hening, tak ada jawaban.

Terbang kembali ke sarangnya dan tidur; menunggu.